Macarons? Makanan apa ini? Entah. Saya kurang kekinian, katrok dengan biskuit atau cemilan-cemilan seperti ini. Pertama kali saya lihat bentukan macaron adalah dalam bentuk props foto saat ikutan workshop-nya mb Ariana. Saat teman-teman sesama workshop bilang macaron-macaron, saya nggak ‘ngeh’ sama sekali. Nggak lama dari itu, ooh, ini semacam biskuit atau cemilan ternyata. Tapi nggak pernah tertarik nyoba atau gimana. Nggak pernah tahu juga sebelumnya, jadi ya lewat gitu aja. Pernah lihat gambarnya aja di Google. That’s all. Nothing Special.
Beberapa bulan ini saya tergabung dalam grup atau komunitas baking di instagram dengan nama @baking_bareng (BB). Isinya mirip dengan grup atau komunitas lainnya, memiliki tema tantangan setiap minggunya. Bedanya dengan yang lain? Saya tergabung dalam grup what’s app. Jadi, kebayang dong ramenya hp saya tiap harinya gara-gara ada grup baking itu, hehehe. Apaaa aja dibahas, selain tema mingguan tentunya. Tapi, dari grup ini saya belajar banyak hal dari mbak-mbak yang jago baking. Next, saya ceritain terpisah acara kopdaran dengan grup ini ya.
Nah, tema dua minggu ini adalah tentang Macaron. Yang dari awal saya gabung di grup selalu jadi tema yang banyak banget dibicarakan, bukan karena banyak yang ngefans, tapi karena ditunda-tunda biar nggak dijadiin tema sama admin, hehehe. Yang katanya inilah, itulah, susahlah intinya. Nah saya? Nggak ambil pusing dong, wong makan yang gratis aja belum pernah, apalagi beli! Ya kaaannn… Jadi di minggu pertama saya masih males-malesan aja, belum beli tepung almond juga. Di minggu terakhir ini, akhirnya nyoba bikin juga. Alhamdulillah, berhasil on first trial. Yeeee… ternyata, begono toh rasanya, nggak se-hitz dramanya di grup BB, terlalu tinggi pula levelnya untuk lidah ‘ndeso’ saya.

